Bermain : Madrasah Berharga untuk Buah Hati Anda

8 Mei 2011

Oleh : Maulida Laila, S.Ked

 

http://2.bp.blogspot.com/Bagi seorang anak, bermain adalah sebuah nafas kehidupan. Bagaimana tidak? Hampir seluruh fase tumbuh kembang anak dihabiskan untuk bermain, baik bermain aktif maupun pasif. Bisa lewat permainan individual dengan boneka atau mobil-mobilan maupun berceloteh penuh canda dengan teman sebaya. Memang, lifestyle anak adalah bermain. Tetapi, jangan pernah mengira bahwa semua permainan yang dilakukan oleh anak-anak hanyalah sekedar aktivitas fisik yang membuang-buang tenaga.

Tahukah Anda? Bermain bagi sang buah hati ternyata memiliki banyak sekali manfaat yang sangat mendukung fase tumbuh kembang mereka. Beberapa di antaranya adalah dapat membantu meningkatkan kreativitas, kemampuan bersosialisasi, sumber belajar, dan masih banyak lagi yang lain.

Secara umum, ada empat parameter yang digunakan untuk menilai perkembangan seorang anak, yaitu :

1)         Gerakan motorik kasar, yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan otot-otot besar, seperti duduk, berdiri, tengkurap, dan lainnya.

2)         Gerakan motorik halus, yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu. Gerakan ini dilakukan oleh otot-otot kecil tetapi pengerjaannya butuh kecermatan, misalnya : menjangkau, menulis, dan memasukkan benda ke mulut.

3)         Bahasa dan bicara, yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, berbicara, berkomunikasi, mengikuti perintah, dan sebagainya.

4)         Sosialisasi dan kepribadian, yaitu aspek yang berhubungan dengan  kemampuan mandiri anak (makan sendiri, membereskan mainan selesai bermain), berpisah dengan ibu atau pengasuh, dan bersosialisasi dengan lingkungan.

http://teptep.student.umm.ac.id/Masing-masing parameter ini akan berubah dan meningkat kemampuannya seiring bertambahnya usia anak.  Di sinilah peran sebuah mainan maupun proses bermain itu sendiri, bagi seorang anak, akan sangat penting nantinya.

Mainan merupakan salah satu bentuk stimulus eksternal yang dapat digunakan untuk merangsang proses perkembangan anak. Apalagi jika mainan itu disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangannya. Hal ini tentu saja akan sangat menunjang kemajuan aspek fisik, bahasa, kecerdasan, dan sosial buah hati Anda tercinta. Berdasar pada usianya, perkembangan anak dapat bervariasi antara satu anak dengan anak yang lain.

Pada tahun pertama (0-1 tahun), anak belajar mendengarkan. Oleh karena itu, stimulus verbal pada periode ini sangat penting untuk perkembangan bahasa pada tahun pertama kehidupannya. Kualitas dan kuantitas vokal anak dapat bertambah dengan stimulus verbal dan anak akan belajar menirukan kata-kata yang didengarnya.

Perlu diingat juga, dalam teori perkembangan kepribadian anak menurut ilmu kejiwaan yang didengungkan oleh Sigmun Freud, disebutkan bahwa anak usia 0-1 tahun mengalami sebuah fase yang disebut dengan fase oral. Dalam fase ini, pusat kenikmatan anak terletak di mulut sehingga anak akan sangat suka memasukkan segala benda ke dalam mulutnya. Dengan demikian, anda perlu jeli memilih mainan pada tahun-tahun pertama kehidupan anak anda.

Untuk anak usia di bawah satu tahun, permainan yang baik adalah yang bersuara, banyak warna, aman saat digigit ataupun saat masuk mulut anak. Ini karena pada fase ini anak membutuhkan rangsangan indera penglihatan, pendengaran, dan gerak motorik.

Pada anak yang lebih besar atau balita (1-5 tahun), anak sudah mampu berjalan dan berbicara,sehingga akan sangat senang melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap lingkungannya. Di masa balita ini, kecepatan pertumbuhan seorang anak akan mulai menurun sedangkan perkembangan motorik (kasar dan halus) dan kemampuan ekskresi mengalami kemajuan yang pesat. Sampai tiga tahun kehidupan, sel-sel otak masih akan terus berkembang pun pertumbuhan serabut saraf dan cabang-cabangnya, sehingga akan terbentuk jaringan saraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan sel-sel saraf ini akan sangat mempengaruhi kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi.

Di masa balita, perkembangan bahasa dan bicara, kreativitas, kesadaran sosial, emosional, dan intelegensia berjalan sangat pesat dan merupakan dasar untuk perkembangan selanjutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk di tahap ini. Sehingga permainan yang baik untuk anak usia balita adalah mainan yang bergerak untuk merangsang gerak motorik anak, seperti mobil-mobilan, lilin yang dibentuk, alat-alat menggambar, dan bola. Bentuk mainan seperti ini juga dapat membentuk mengenalkan anak dengan hasil-hasil teknologi modern.

Menginjak usia prasekolah (5-6 tahun), pertumbuhan anak menjadi lebih stabil. Hanya saja, perkembangan dan kemampuan berfikirnya semakin berkembang pesat. Ini terlihat dari mulai tertariknya anak pada dunia di luar rumahnya. Mereka akan jauh lebih menyukai aktivitas yang dilakukan di luar rumah dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Sepatutnya lingkungan tersebut menciptakan suasana bermain yang bersahabat untuk anak (child friendly environment).

Di masa prasekolah, anak sudah harus mulai dipersiapkan untuk sekolah. Untuk itu, sistem panca indera, reseptor penerima rangsang, dan proses memori harus sudah siap sehingga anak nantinya mampu belajar dengan baik. Namun, perlu diketahui bahwa proses belajar di masa prasekolah adalah dengan cara bermain.

Mengacu pada perkembangan anak di usia prasekolah, permainan yang mengajak anak berfantasi adalah pilihan terbaik. Contohnya seperti berbagai macam mainan yang digantung atau ditempel di langit-langit kamar. Pada periode ini anak juga bisa dikenalkan dengan mainan huruf atau angka-angka sebagai persiapan untuk memasuki dunia sekolah.

Sementara pada tahap sekolah (6-12 tahun), perhatian anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya, dan mulai beralih ke teman sebayanya. Pada fase sekolah ini, kemampuan bersosialisasi anak berkembang sangat pesat. Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, orang tua, guru, maupun saudara. Di dalam hubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna bagi kehidupan anak dan itu akan membantu seorang anak membentuk kepribadiannya. Apa yang dipelajari anak dari lingkungan keluarganya juga turut mempengaruhi pembentukan perilaku sosialnya.

Di tahap sekolah ini, anak biasanya sudah bisa memilih sendiri mana mainanhttp://www.ceritamu.com/ yang diinginkannya. Alangkah baiknya jika pada fase ini anak sudah mulai diperkenalkan dengan buku bacaan anak. Hal ini penting karena buku bacaan dapat meningkatkan kemampuan bahasa, berkomunikasi, menambah wawasan terhadap lingkungan, dan memenuhi hasrat keingintahuan anak dari apa yang sudah ia pelajari di sekolah. Hanya saja, dalam melatih anak untuk membaca, hendaknya orang tua juga jangan terlalu memaksa anak untuk membaca, tetapi berilah kebebasan kepada anak untuk memilih buku bacaan yang ingin mereka baca, meskipun orang tua tetap harus berperan mengawasi segala bentuk aktivitas buah hatinya.

Dari pembasahan di atas, dapat ditarik simpulan bahwa mainan ternyata amat berperan dalam membentuk kepribadian dan menunjang proses tumbuh kembang seorang anak. Rangsangan mainan ini sebaiknya memang menyesuaikan kemampuan dan usia anak. Ibarat kertas putih, anak adalah kertas yang siap diwarnai oleh kuas-kuas tangan Anda sebagai orang tua. Tinggal bagaimana Anda akan menggambar lukisan kepribadian buah hati Anda. Dan dengan bermain, lukisan kepribadian anak-anak Anda akan semakin tampak nyata, sebab bermain adalah madrasah berharga untuk buah hati Anda…..

 

 

sumber :

  1. http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/02/stimulasi_tumbuh_kembang_anak_optimal.pdf
  2. http://www.aqilaputri.rachdian.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=23
  3. http://www.anneahira.com/mainan-anak-cerdas.htm

 

Kirim Komentar