Karena Kita Tidak Pernah Tahu Kapan Kita Akan Lupa
22 Mei 2011
Oleh : Maulida Laila A.R., S.Ked
Pernahkah anda menonton film asal Korea yang berjudul “A Moment to Remember?”. Kalau belum, mungkin film ini bisa menjadi salah satu sajian menarik yang bisa mengisi waktu luang anda. Jika sudah, ada baiknya jika kita sedikit mengulas cerita film ini dan menarik pangkal masalahnya dari sisi kedokteran.
Dalam film itu dikisahkan ada seorang wanita yang bertemu dengan seorang laki-laki dan mereka berdua pun menikah. Kehidupan rumah tangga mereka sangat bahagia dan penuh cinta. Namun, tiba-tiba, seiring berjalannya waktu, sang wanita mulai merasakan ada keanehan dalam dirinya yang sebetulnya sudah ia rasakan sejak sebelum menikah. Sang wanita ini merasa bahwa dirinya amatlah pelupa! Ia sering lupa di mana ia menaruh pensilnya, ia sering lupa nama orang yang baru ia kenal, dan yang paling parah ia sering lupa jalan pulang ke rumahnya!
Karena merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya, maka wanita ini pun berkonsultasi ke dokter dan ia kemudian terhenyak, kaget, dan menangisi nasibnya karena diagnosis si dokter terhadap penyakitnya. Wanita itu positif terkena penyakit Alzheimer! Cerita pun mulai klimaks di situ. Bagaimana akhirnya sang wanita menghadapi kenyataan bahwa lambat laun ia harus hidup dengan deraan penyakit pikun? Bagaimana juga sikap sang suami saat mendapati istri yang begitu ia cintai tiba-tiba menjadi sosok yang tak lagi ingat siapa dirinya? Dan bagaimana akhir kisah ini selanjutnya? Anda bisa menyaksikannya sendiri di lain waktu karena saya menulis artikel ini bukan untuk membahas kelanjutan film romantis di atas, tapi saya ingin menyorot tentang penyakit Alzheimer yang diderita oleh tokoh wanita dalam film tersebut.
Jadi, apakah Alzheimer itu????
Penyakit Alzheimer merupakan gangguan otak yang bersifat progresif yang dimulai dengan kehilangan daya ingat dan akhirnya menuju pada demensia total (hilangnya daya ingat dan kemampuan kognitif) yang bisa berujung pada berkematian. Ada banyak gejala yang diasosiasikan dengan penyakit ini, termasuk masalah ingatan, kebingungan (confusion) dan disorientasi, ketidakmampuan melakukan pekerjaan sederhana, halusinasi dan ilusi (delusions), munculnya sifat amarah dan perilaku kekerasan, munculnya sikap seperti anak kecil, paranoid, depresi, dan suasana hati yang berubah-ubah (mood swings).
Penyakit Alzheimer ditemukan pertama kali pada tahun 1907 oleh seorang ahli psikiatri dan neuropatologi yang bernama Alois Alzheimer. Ia mengobservasi seorang wanita berusia 51 tahun, yang mengalami gangguan intelektual dan memori serta tidak mengetahui jalan kembali ke tempat tinggalnya, sementara wanita itu tidak mengalami gangguan anggota gerak, koordinasi dan reflek. Pada autopsi tampak bagian otak mengalami atropi (pengerutan) yang difus dan simetris, secara nikroskopik tampak bagian kortikal otak mengalami neuritis plaque dan degenerasi neurofibrillary.
Penyakit alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang secara epidemiologi terbagi 2 kelompok, yaitu kelompok yang menderita pada usia kurang 58 tahun disebut sebagai early onset sedangkan kelompok yang menderita pada usia lebih dari 58 tahun disebut sebagai late onset.
Penyebab yang pasti belum diketahui. Beberapa alternatif penyebab yang telah dihipotesis antara lain: intoksikasi logam, gangguan fungsi imunitas, infeksi virus, polusi udara/industri, trauma, gangguan neurotransmiter, defisit formasi sel-sel filamen, dan adanya presdiposisi herediter. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa memang ada peran faktor genetika, meskipun beberapa penelitian lain juga sudah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat, dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika.
Alzheimer mempengaruhi bagian otak yang bernama hippocampus yaitu bagian dari otak yang mengatur lokasi ingatan dan kecerdasan. Sebagai bagian dari penyakit ini, neuron atau sel saraf dalam hippocampus menjadi kusut (saling terbelit) yang berakibat pada pembentukan plak dan kematian sel otak, terutama yang berhubungan dengan gangguan pembentukan ingatan baru dan gangguan pengambilan ingatan lama.
Pada tahap awal penyakit, terjadi gangguan memori yang jelas, terutama memori jangka pendek. Pasien mengalami kesulitan belajar dan mengingat informasi baru. Pada tahap lanjut, gangguan memori, bersamaan dengan defisit perhatian, akan menyebabkan disorientasi waktu. Terjadi kesulitan mencari kata-kata, dan hilangnya pengetahuan umum. Defisit persepsi dapat disertai dengan halusinasi dan delusi. Ahirnya, terjadi kehilangan fungsi kognitif global yang berat, seperti amnesia1, afasia2, apraksia3, dan agnosia4. Terjadi pula gangguan kepribadian dan gangguan perilaku, inkontinensia5, dan kematian dalam 5-10 tahun.
Ada beberapa poin penting untuk mengatasi penyakit Alzheimer melalui cara-cara alami, mengingat penyakit ini tidak bisa diobati tetapi bisa dicegah ataupun dihambat progresivitasnya jika sudah terkena penyakit ini. Ada baiknya jika kita selalu ingat pepatah, bahwa mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.
Pertama, kurangi radikal bebas. Radikal bebas dapat dikurangi dengan mengonsumsi lawannya yakni antioksidan. Antioksidan seperti vitamin A, C, dan E penting untuk mencegah kerusakan berlebihan dalam otak akibat radikal bebas. Riset menunjukkan bahwa vitamin E efektif memperlambat penyakit Alzheimer.
Kedua, detoksifikasi, terutama jika seseorang terlah terkena paparan unsur logam berat seperti merkuri, timbal, atau aluminium, maupun toksin-toksin lain seperti pestisida, konsumsi zat besi, atau alkohol. Bahan-bahan kimia di atas sangat berbahaya dan dapat menyebabkan peradangan serta meningkatkan pembentukan radikal bebas. Pastikan anda menghindari sumber-sumber unsur logam berat, terutama yang mengandung aluminium, karena telah dihubungkan dengan penyakit Alzheimer.
Ketiga, sangat dianjurkan untuk makan dengan pola yang terdiri dari makanan bukan olahan, banyak buah dan sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan ikan yang kaya Omega-3. Makanan organik memang optimal tetapi jika tidak tersedia, cucilah terlebih dahulu makanan anda sebelum dikonsumsi. Minumlah air yang banyak, setidaknya 12 gelas sehari. Pastikan bahwa asupan gizi dalam makanan kita mencukupi untuk membantu tubuh membentuk neurotransmitter penting seperti : acetylcoline, serotonin, GABA, dopamin, dan norepinefrin.
Keempat, sebuah komponen penting dalam gaya hidup yang membantu memperingan gejala Alzheimer adalah berolah raga dan kemauan untuk mempelajari hal-hal baru. Berolah raga secara teratur berfungsi untuk meningkatkan aliran darah yang mengandung oksigen ke otak dan membantu menjaga agar otak kita tetap aktif. Selain itu, latihlah otak anda untuk mau mempelajari hal-hal baru yang terjadi di sekeliling anda. Karena riset menunjukkan, bahwa kurangnya stimulasi mental dapat dihubungkan dengan hilangnya fungsi otak.
Jadi, mulai saat ini juga, ada baiknya kita mulai memperhatikan kesehatan otak kita. Sebab kita tidak pernah tahu kapan kita akan lupa…..
Catatan :
- Amnesia : gangguan ingatan berupa hilangnya daya ingat
- Afasia : hilangnya kemampuan ekspresi dengan bicara, menulis, atau tanda-tanda. Atau hilangnya kemampuan untuk memahami bahasa lisan atau tulisan.
- Apraksia : hilangnya kemampuan untuk melakukan gerakan yang biasanya mudah untuk dilakukan, meskipun tidak terdapat gangguan motorik maupun sensorik, misalnya tidak mampu untuk meniup korek api untuk mematikan api.
- Agnosia : hilangnya kemampuan untuk mengenali rangsangan sensoris, misalnya tidak mampu untuk mengenali wajah seseorang.
- Inkontinensia : hilangnya kemampuan untuk mengendalikan fungsi ekskresi, seperti tidak bisa menahan keluarnya air kencing (inkontinensia uri) maupun saat BAB (inkontinensia alvi).
Sumber :
Cook, M.S. 2010. Brain Wash Detoksifikasi Otak. Jakarta : Akademia. pp : 230-234.
Ginsberg, Lionel. 2007. Lecture Notes Neurologi. Jakart : Erlangga. pp : 168-169.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1996/1/bedah-iskandar%20japardi38.pdf
Kirim Komentar

